Rabu, 15 April 2015

Masalah-masalah Siswa di Sekolah (Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling)

Resume BK Kelompok 6



Masalah-masalah Siswa di Sekolah
Siswa di sekolah sebaga makhluk sosial dan indidu pasti memiliki masalah, dengan taraf masalah antara siswa satu dengan yang lain pastilah berbeda. Tohirin (2007: 111) mengungkapkan bahwa siswa di sekolah  akan mengalami masalah-masalah yang berkenaan dengan:
1.      Perkembangan Individu
2.      Perbedaan Individu
3.      Kebutuha Individu
4.      Penyesuaian diri dan kelaian tingkah laku
5.      Masalah belajar
M. Hamdan Bakran Adz-Dzaky (2004) mengklasifikasikan masalah individu termasuk siswa sebagai berikut:
1.      Masalah atau kasus yang berhubungan problematika individu dengan Tuhannya.
2.      Masalah individu dengan dirinya sendiri
3.      Individu dengan lingkungan keluarga
4.      Individu dengan lingkungan kerja
5.      Individu dengan lingkungan sosialnya
Beberapa contoh masalah-masalah di sekolah yang dikemukakan dalam Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling (halaman 58)
1.      Prestasi belajar rendah atau di bawah rata-rata atau merosot
Gambaran lebih rinci:
a.       Nilai rapor menurun atau rendah
b.      Mendapat peringkat di bawah rata-rata untuk beberapa mata pelajaran
Kemungkinan sebab:
a.       Tingkat kecerdasan di bawah rata-rata
b.      Malas belajar
c.       Kekurangan minat, perhatian, atau sarana belajar
d.      Suasana sosio-emosional sekolah kurang memungkinkan siswa untuk belajar dengan baik.
Kemungkinan akibat:
a.       Minat belajar semakin berkurang
b.      Tidak naik kelas
c.       Dikeluarkan dari sekolah
d.      Frustasi yang mendalam
e.       Tidak mampu melanjutkan pelajaran
f.       Kesulitan mencari kerja
2.      Kurang berminat pada bidang studi tertentu
Gambaran lebih rinci:
a.      Tidak dapat memusatkan perhatian belajar (mata pelajaran tertentu)
b.      Berusaha tidak mengikuti mata pelajaran yang bersangkutan dengan bidang studi tersebut;
c.       Tidak mengerjakan tugas-tugas dalam mata pelajaran tersebut.
Kemungkinan sebab:
a.       Tidak memiliki bakat dalam bidang tersebut
b.      Lingkungan tidak menyokong untuk pengembangan bidang tersebut
c.       Proses belajar mengajar untuk bidang tersebut tidak menyenangkan
d.      Dengan guru kurang menyenangkan
Kemungkinan akibat:
a.       Pindah jurusan
b.      Terjadi ketidaksesuaian antara keinginan orang tua dan pilihan siswa
c.       Kegiatan belajar untuk bidang-bidang studi lain menjadi terganggu
3.      Bentrok dengan guru
Gambaran lebih rinci:
a.       Tidak mengikuti pelajaran dengan guru yang bersangkutan
b.      Tidak mau bertemu dengan guru tersebut
c.       Jika bertemu tidak mau menegur guru tersebut
Kemungkinan sebab
a.       Tidak menyukai bidang studi yang diajarkan oleh guru tersebut
b.      Siswa berbuat kesalahan dan ketika ditegur oleh guru tersebut siswa tidak mau menerima teguran itu
Kemungkinan akibat
a.       Memperoleh nilai “mati” dari guru yang bersangkutan
b.      Hubungan dan kegiatan belajar dengan guru-guru lain menjadi terganggu
c.       Tidak naik kelas
4.      Melanggar tata tertib
Gambaran lebih rinci:
a.       Sejumlah tata tertib sekolah tidak dipatuhi
b.      Pelanggaran tersebut kelihatannya bukan tanpa disengaja
c.       Pelanggaran tersebut dilakukan berkali-kali
Kemungkinan sebab:
a.       Tidak begitu memahami kegunaan masing-masing aturan atau tata tertib yang berlaku di sekolah, aturan tersebut tidak didiskusikan dengan siswa sehingga siswa hanya terpaksa mengikutinya
b.      Siswa yang bersangkutan terbiasa hidup terlalu bebas, baik di rumah maupun di masyarakat
Kemungkinan akibat:
a.       Tingkah laku siswa makin tidak terkendali
b.      Terjadi kerenggangan hubungan antara guru dan murid
c.       Suasana sekolah dirasakan kurang menyenangkan bagi siswa
5.      Membolos
Gambaran lebih rinci:
a.       Berhari-hari tidak masuk sekolah
b.      Tidak masuk sekolah tanpa izin
c.       Sering keluar pada jam pelajaran tertentu
d.      Tidak masuk kembali setelah minta izin
Kemungkinan sebab:
a.       Tak senang dengan sikap dan perilaku guru
b.      Merasa dibeda-bedakan oleh guru
c.       Proses belajar-mengajar membosankan
d.      Merasa gagal dalam belajar
e.       Kurang berminat terhadap mata pelajaran
Kemungkinan akibat:
a.       Minat terhadap pelajaran akan semakin kurang
b.      Gagal dalam ujian
c.       Hasil belajar yang diperoleh tidak sesuai dengan potensi yang dimiliki
d.      Tidak naik kelas

6.      Terlambat masuk sekolah
Gambaran lebih rinci:
a.       Memakai waktu istirahat melebihi waktu yang ditentukan
b.      Sengaja melambat-lambatkan diri masuk kelas meskipun tahu jam pelajaran sudah mulai
Kemungkinan sebab:
a.       Jarak antara sekolah dan rumah jauh
b.      Kesulitan kendaraan
c.       Terlalu banyak kegiatan di rumah, membantu orang tua
d.      Terlambat bangun
e.       Tidak menyiapkan pekerjaan rumah (PR)
f.       Kurang mempunyai persiapan untuk kegiatan di kelas
g.      Terlalu asyik dengan kegiatan di luar sekolah
Kemungkinan akibat:
a.       Nilai rendah
b.      Tidak naik kelas
c.       Hubungan dengan guru terganggu
d.      Hubungan dengan kawan sekelas terganggu
e.       Kegiatan di luar sekolah tidak terkendali
7.      Pendiam
Gambaran lebih rinci:
a.       Kurang mau berbicara atau bertegur sapa;
b.      Kurang akrab terhadap teman atau guru;
Kemungkinan sebab:
a.       Berwatak introvert
b.      Kurang sehat
c.       Mengalami gangguan dengan organ bicara
d.      Malu atau takut kepada orang lain
e.       Merasa tidak perlu atau tidak ada gunanya berbicara
Kemungkinan akibat:
a.       Tidak disukai kawan dan pergaulan terganggu;
b.      Kurang mampu mengembangkan penalaran melalui komunikasi lisan.

8.      Kesulitan alat pelajaran
Gambaran yang lebih rinci:
a.       Tidak memiliki buku-buku untuk berbagai mata pelajaran;
b.      Tidak cukup memiliki buku dan alat-alat tulis;
c.       Tidak mampu membeli alat-alat pelajaran, seperti alat-alat untuk praktek berbagai mata pelajaran.
Kemungkinan sebab:
a.       Orang tua tidak mampu
b.      Pemboros
c.       Tidak mengetahui tersedianya dan cara memanfaatkan sumber belajar yang ada (misalnya perpustakaan);
Kemungkinan akibat:
a.       Tertinggal dalam pelajaran;
b.      Tugas-tugas tidak selesai;
c.       Nilai rendah;
d.      Semangat belajar menurun.

9.      Bertengkar atau berkelahi
Gambaran yang lebih rinci:
a.       Sering salah paham dengan kawan;
b.      Sombong;
c.       Memperolokkan, mengejek dan menantang orang lain;
Kemungkinan sebab:
a.       Pengendalian diri kurang
b.      Merasa jagoan
c.       Hiperaktif
Kemungkinan akibat:
a.       Tidak disukai kawan dan guru
b.      Luka
c.       Melalaikan pelajaran
d.      Nilai rendah
10.  Sukar menyesuaikan diri
Gambaran yang lebih rinci:
a.       Sering terjadi salah paham dengan kawan
b.      Sombong atau tinggi hati
Kemungkinan sebab:
a.       Mau menang sendiri
b.      Memiliki standar yang berbeda dengan standar yang ada;
Kemungkinan akibat:
a.       Sosialitas kurang berkembang sehingga kurang mendapat keuntungan dari pergaulannya dengan orang lain;
b.      Tidak dapat mengambil manfaat dari lingkungan demi pengembangan dirinya
Pendekatan-pendekatan Umum dalam Bimbingan dan Konseling
1.      Pendekatan Krisis
Pendekatan krisis adalah upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami krisis atau masalah. Bimbingan bertujuan untuk mengatasi krisis atau masalah-masalah yang dialami individu.
2.      Pendekatan Remedial
Pendekatan remedial adalah upaya bimbinngan yang diarahkan kepada individu yang mengalami kesulitan. Tujuan bimbingan adalah untuk memperbaiki kesulitan-kesulitan yang dialami individu.
3.      Pendekatan Preventif
Pendekatan preventif adalah upaya bimbingan yang diarahkan untuk mengantisipasi masalah-masalah umum individu dan mencoba jangan sampai terjadi masalah tersebut pada individu.
4.      Pendekatan Perkembangan
Teknik yang digunakan dalam bimbingan dan konseling perkembangan adalah pembelajaran, pertukaran informasi, bermain peran, tutorial, dan konseling.
Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling
Istilah strategi berasal dari kata benda strategos, merupakan gabungan kata stratos (militer) dengan ago (memimpin). Sebagai kata kerja, stratego berarti merencanakan (to plan). Pada awalnya, strategi berarti kegiatan memimpin militer dalam menjalankan tugas-tugasnya di lapangan. Menurut Nurihsan (2007) mengemukakan bahwa strategi adalah suatu pola yang direncanakan dan ditetapkan secara sengaja untuk melakukan kegiatan atau tindakan. Strategi bimbingan dan konseling dapat berupa konseling individual, konsultasi, konseling kelompok, bimbingan kelompok, dan pengajaran remedial, bimbingan klasikal, dan strategi terintegrasi.
1.      Konseling Individu
Konseling individual adalah proses belajar melalui hubungan khusus secara pribadi dalam wawancara antara guru BK dan siswa. Konseling bertujuan membantu siswa untuk mengadakan interpretsai fakta-fakta, mendalami arti nilai hidup pribadi baik sekarang maupun mendatang.
Menurut Nurihsan (2007: 11) teknik yang digunakan dalam konseling individual yaitu: a) Menghampiri siswa; b) empati; c) refleksi; d) eksplorasi; e) menangkap pesan utama; f) bertanya untuk membuka percakapan; g) bertanya tertutup; h) dorongan minimal; i) interpretasi; j) mengarahkan; k) menyimpulkan sementara; l) memimpin; m) memfokus; n) konfrontasi; o) menjernihkan; p) memudahkan; q) diam; r) mengambil inisiatif; s) memberi nasihat; t) memberi informasi; u) merencanakan; dan v) menyimpulkan.
Secara umum Nurihsan (2007) membagi proses konseling individual ke dalam tiga tahapan yaitu: a) tahap awal konseling, b) tahap pertengahan konseling, dan c) tahap akhir konseling.
2.      Konsultasi
Konsultasi merupakan salah satu strategi bimbingan yang penting sebab banyak masalah karena sesuatu hal akan lebih berhasil jika ditangani secara tidak langsung oleh guru BK. Konsultasi dalam pengertian umum dipandang sebagai nasihat dari seseorang yang professional. Pengertian konsultasi dalam program bimbingan dipandang sebagai suatu proses menyediakan bantuan teknis untuk guru, orang tua, administrator, dan guru BK lainnya dalam mengidentifikasi dan memperbaiki masalah yang membatasi efektivitas siswa atau sekolah.
3.      Bimbingan Kelompok
Strategi lain dalam layanan bimbingan dan konseling adalah bimbingan kelompok. Bimbingan kelompok dimaksudkan untuk mencegah berkembangnya masalah atau kesulitan pada diri siswa.
4.      Konseling Keompok
Konseling kelompok adalah suatu upaya bantuan kepada siswa dalam suasana kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, dan diarahkan kepada pemberian kemudahan dalam rangka perkembangan dan pertumbuhannya. Konseling kelompok merupakan upaya bantuan kepada siswa dalam rangka memberikan kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Selain bersifat pencegahan, konseling kelompok dapat pula bersifat penyembuhan.
5.      Pengajaran Remedial
pengajaran remedial dapat didefinisikan sebagai upaya guru untuk menciptakan suatu situasi yang memungkinkan individu atau kelompok siswa tertentu lebih mampu mengembangkan dirinya seoptimal mungkin sehingga dapat memenuhi kriteria keberhasilan minimal yang diharapkan.
Strategi dan teknik pengajaran remedial dapat dilakukan secara preventif, kuratif, dan pengembangan. Tindakan pengajaran remedial dikatakan bersifat kuratif jika dilakukan setelah program PBM utama selesai diselenggarakan. Pendekatan preventif ditujukan kepada siswa tertentu yang diperkirakan akan mengalami hambatan terhadap pelajaran yang akan ditempuhnya.
6.      Bimbingan Klasikal
Menurut Sudrajat, bimbingan klasikal termasuk ke dalam strategi untuk layanan dasar bimbingan. Layanan dasar diperuntukkan bagi semua siswa. Hal ini berarti bahwa dalam peluncuran program yang telah dirancang, menuntut guru BK untuk melakukan kontak langsung dengan para siswa di kelas. Secara terjadwal, guru BK memberikan layanan bimbingan kepada para siswa.

0 komentar:

Posting Komentar